Rabu, 25 Maret 2015

agama Hindu

A.    Latar Belakang
Sejak tahun 1998 sampai sekarang, Institut Dian / Interfidei menyelenggarakan program Studi Agama-agama (SAA). Studi ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa sejak beberapa tahun terakhir ini minat masyarakat ingin mengenal dan memahami agama-agama diluar agama yang dianutnya mengalami perkembangan yang signifikan.
Perkembangan tersebut memunculkan “Kesadaran Pluralis”  di masyarakat, khusunya diantara intelektual dan aktivis serta kaum agamawan, untuk mengenal lebih jauh tentang agama-agama lain maupun agamanya sendiri. Kesadaran tersebut tidak semata-mata di dorong oleh kepentingan pribadi untuk “sekedar tahu” tetapi juga oleh dinamika dan perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat.
Sesuai kenyataan beragamnya agama dalam kehidupan riil di masyarakat dengan segala bentuk interaksi dan dinamikanya, ditambah dengan berbagai stereotype dan prasangka pada masing-masing penganut agama, sehingga menuntut kita semua untuk mampu memahami dan menghargai satu dengan lainya. Maka dalam artikel ini saya membahas tentang Agama Hindu.
            Ada tiga aspek dasar yang perlu diketahui dalam setiap pembahasan mengenai agama-agama, yaitu tiga aspek yang menjadi fokus dalam studi ini adalah Sejarah, Theologi/Filsafat, dan Etika.
                                                Memahami Kehidupan Ajaran Hindu
            Langsung saja pokok bahasan yang ingin saya sampaikan mengenai agama Hindu yaitu sesuai yang saya paparkan diatas tentang sejarah Hindu, Theologi/Filsafat dalam Hindu dan juga etika dalam perspektif Hindu. Sebelum membahas lebih jauh mari kita bahas dulu mengenai sejarah tentang agama Hindu.
 A.  Sejarah Hindu
Kata Hindu diberikan oleh orang-orang Persia terhadap wilayah di lembah Sungai Shindu. Selain itu, Agama Hindu juga disebut Vaidika Dharma karena bersumber pada wahyu suci Tuhan, yang disebut Pustaka Veda. Secara etimologi Veda berasal  dari vid yang berarti mengetahui sedangkan veda berarti pengetahuan. Wahyu veda diterima melalui :
a)      Svaranada, semula didengar hanya sebagai gema, kemudian menjadi sabda Tuhan, lalu oleh Rsi disampaikan kepada para siswanya.
b)      Upanisad, dalam keadaan meditasi pikiran Rsi dimasuki oleh Sabda Tuhan.
c)      Darsanam, Rsi berhadapan langsung dengan para Dewa dalam suatu pandangan Ghaib.
d)     Avatara, perkataan langsung yang disampikan oleh Tuhan yang bereinkarnasi ke dunia.
Sedangkan Sabda Tuhan yang diterima oleh para Maharsi  dari Tuhan dikenal sebagai Veda Sruti( meliputi: Rgveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharvaveda).[1] Agar kita lebih mudah memahami ajaran agama Hindu, berikut ini beberapa  karakteristik Hindu Dharma.
Pertama, keterbukaan terhadap pandangan kritis seluruh isi ajaranya. Sesuai pernyataan , “ Walaupun seribu Veda menyatakan bahwa api itu dingin, janganlah dipercaya !”.  Hindu adalah agama  pembebasan yang ajaranya tidak bersandar pada dogma-dogma. Kedua, esensi ajaran veda dapat diformulasikan dalam bentuk keimanan. Ketiga, tujuan agama Hindu untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan tujuan ini, perilaku umat Hindu harusnya mencerminkan nilai-nilai sathyam (kebenaran), sivam (kebajikan), dan sundaram ( keindahan).[2]
 Penyebaran Hindu di Nusantara Indonesia, melalui proses komunikasi dan pengenalan. Misi penyebaran agama Hindu yaitu, umat Hindu tidak menafsirkannya sebagai penyebaran aktif, tetapi mereka menerima orang-orang yang ingin mendalaminya. Umat Hindu cepat berkembang di negeri ini karena adanya persamaan unsur-unsur antara agama Hindu dengan Kepercayaan asli, misalnya :
1.      Agama Hindu memuja Brahman dan para dewa, sedangkan kepercayaan nenek moyang memuja roh leluhur.
2.      Tempat pemujaan agama Hindu berupa Lingga, candid an arca. Sedangkan tempat pemujaan nenek moyang berupa, menhir, punden berundak, tahta batu dan patung.
3.      Upacara agama Hindu dipimpin oleh Kaum Brahmana, sedang upacara nenek moyang dipimpin oleh dukun.[3]
Untuk memahami perkembangan agama Hindu pada tahap awal  di Nusantara, dua seumber yang dapat dijadikan acuan yaitu dengan ditemukanya prasasti dan bangunan suci. Karena  dua bukti tersebut selalu berkaitan dengan raja-dan kerajaan.
Prasati pertama yang berkaitan dengan kerajaan Hindu ditemukan dalam bentuk Yupa (memakai hurup palawa dan bahasa Sansekerta) di Kutai, Kalimanta Timur. Di Jawa Barat juga ditemukan sejumlah prasasti yang diperkirakaan dibuat pada awal abad kelima sebagai peninggalan Raja Purnawarman. Dari prasasti-prasasti yang ada diketahui bahwa sang Raja adalah penganut Hindu.


B. Theologi / Filsafat yang ada dalam Agama Hindu
Manusia adalah termasuk makhluk yang kecil dalam ciptaan Tuhan. Untuk itu sangatlah sulit dan terbatas pemikiran manusia untuk memberikan  penjelasan mengenai diri Tuhan. Namun, dalam pandangan agama Hindu  akan diberi batasan mengenai penjelasan tentang Tuhan, dengan harapan  dijadikan titik pertemuan dalam bertukar informasi  dan sebagai titik tolak yang sebenarnya aplikasi manusia dari bentuk kebakhtian kepada –Nya dan berusaha hidup rukun dan damai demi kesejarhteraan dan kebahagiaan umat manusia.
 Pernyataan dalam sabda suci Bhagavadgita X.2 menyatakan :
“ Na me viduh suraganaah
Prabhavam na maharshayah
Aham aadir hi devaanaam
Maharsiinaam cha sarvasah “
Artinya : “ Baik para dewa maupun resi Agung ,Tidak mengenal asal mula-Ku. Sebab dalam segala hal, Aku adalah sumber dari para dewa dan Rsi Agung”.
Dengan berlandaskan sabda tersebut, jelaslah bahwa kelemahan dan keterbatasan manusia tentang mendefinisikan Tuhan dan seluk beluk tentang Ketuhanan. Beberapa tokoh mendefinisikan :
1)      Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai yang Maha Kuasa ( Depdikbud, 1988:965)
2)      God is super human being worshipped as having power over nature and human fortunes ( Fowler and Fowler, 1964: 526)
Paham atau Ilmu yang membahas tentang Tuhan disebut Theology. Di dalam agama Hindu disebut Brahma Vidya, yaitu pengetahuan tentang Brahman (Tuhan).
Menindak lanjuti dari penjelasan tentang Tuhan diatas tentu belum bisa memuaskan, karena pada dasarnya sebuah definisi yang baik harus meliputi : menyangkut sejarah, bentuk, sifat, fungsi, kedudukan, perbandingan, ciri-ciri, dll. Oleh karena yang diberi definisi memang sulit karena Tuhan itu Maha Besar, Maha Kuasa, dan serba Maha-maha yang tak bisa terpikirkan oleh akal kita. Sehingga menimbulkan perbedaan mengenai konsepsi atau persepsi mengenai diri Tuhan itu seharusnya tidak perlu untuk dipertengkarkan, tetapi dengan adanya perbedaan mengenai cara pandang dalam masing-masing individu / agama-agama yang ada seharusnya membuat diri kita menjadi sadar, memaklumi dang menghargai sehingga dalam kehidupan ini kita bisa hidup rukun, damai, sejahtera baik dalam sosialisasi penganut agama sendiri ataupun dengan penganut agama yang lain.
Pandangan tentang tokoh agama Hindu di dalam Brahmasutra menyatakan bahwa Tuhan itu, “ Tad avyaktam, aha hi”, yang artinya “ Sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan”. Dengan dasar pemikiran yang seperti ini, maka akan saya paparkan menegenai pokok pikiran yang berkaitan dengan konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu yang berkaitan dengan wujud dan KeEsaa-Nya, kedudukan, sifat, dan fungsi Tuhan.
·   Veda adalah Wahyu Tuhan
Sumber utama pustaka suci agama Hindu adalah Veda. Karena pada dasarya Veda diyakini sebagai Wahyu atau Sabda Tuhan (Brahman). Veda bersumber dari wahyu Tuhan, maka Veda disebut Apauruseya, yang artinya bukan dari purusa atau manusia. Veda diyakini “anadi ananta” (tidak ada awal dan akhir). Sebagai pembuktian mengenai Veda adalah sabda Tuhan adalah sesuai mantra berikut ini :
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia mempersembahkan berbagai yajnya dan dari Tuhan muncul Rgveda dan Samaveda. Dari Tuhan pula muncul Yajurveda dan Atharveda” (Yajurveda.XXX.7)
·   Wujud dan keEsaan Tuhan (Brahman)
Di dalam kitab Veda (wahyu Tuhan) membicarakan aspek wujud Brahman yang sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang cemerlang sehingga sulit diketahui wujudnya. Jadi Tuhan adalah abstrak kekal abadi yang dalam Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman. Keadaan seprti ini dipahami bahwa Tuhan tidak Berpribadi atau Transenden, yang berarti diluar jangkauan pemikiran manusia. Walaupun Brahman pada dasarnya tidak berwujud, namun bila Brahman sendiri menghendaki  dia terlihat maka hal ini mudah ia lakukan. Di dalam mantra Bagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3, eksistensi wujud Brahman dipaparkan sebagai berikut :
a)      Paranaamam, Tuhan yang abstrak Kekal Abadi yang tidak berpribadi. (sesuai mantra Bhagavdgita IX.6)
b)      Vyuhanaama, Tuhan berbaring pada ular di lautan susu. Tuhan ini hanya bisa dilihat oleh para dewa.
c)      Vibhawanaama, Tuhan ini berwujud dan disebut Avatara,”Tuhan menyebrang”. Perwujudanya dibedakan menjadi tiga : Bentuk tumbuhan atau Binatang, Bentuk setengah manusia setengah Binatang, Bentuk manusia dengan berbagai kelebihan.
d)     Tuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan
e)      Archananaama, Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk  Archa atau pertima.
Dengan penjelasan yang ada dapat disimpulkan bahwa Ketuhanan dalam agama Hindu merupakan kombinasi dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme.
·         Kedudukan dan Sifat Tuhan
`Menurut umat agama Hindu kedudukan Tuhan berada dimana-mana, hal ini didasarkan pada veda tuhan itu bersifat sarva viapi atau viapi viapaka , “ maha ada, maha dimana-mana, dapat dijumpai dimana-mana, (di depan, dibelakang, disamping, diatas, dibawah, ditengah, dll.) selain itu Tuhan juga berada dekat dalam hati (ring tengahing padma hrdaya) dalam diri kita, sehingga ada mahavakya : “ Aham Brama Asmi “, Aku adalah Tuhan.
Di dalam Rgveda, X,82-3, Yajur dan Atharvaveda,II,1.3
“ Bapak kami, pencipta kami, penguasa kami, yang menetahui semua tempat dan segala yang ada, Dialah satu-satunya. Memakai nama dewa yang berbeda-beda, Dialah yang dicari oleh semua Makhluk dengan renungan”.
Mengenai pemamaparan kedudukan Tuhan yang seperti diatas, maka dapat kita bayangkan bahwa sifat dari Tuhan tidak bisa kita gambarkan. Namun, untuk mengetahui secara sekilah dan untuk mengagumi demi untuk berbhakti kepada-Nya maka sifat Tuhan menurut konsep Veda dan sastra Hinduistis, Tuhan bersifat : Maha Mulia, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Ada, Maha Sakti, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Bijaksana, dsb.
C. Pandangan umat Hindu tentang Etika Moralis
Mengenai etika moralis dalam perspektif Hindu di dasarkan pada wahyu Veda yang merupakan pustaka suci umat Hindu. Dalam pustaka Hindu ini banyak memberikan sumbangan pikiran kepada umatnya untuk selalu hidup bahagia dan sejahtera. Pemaparan mengenai ajaran dalam wahyu veda terdapat dalam hal-hal berikut :
1)      Tri karya Parishuda (tiga hal yang menyangkut kesucian/ kebenaran),konsep ini terdiri dari : berpikir yang suci dan benar, berkata yang suci dan benar, serta berperilaku yang suci dan benar.
2)      Tri Hita Karana, (tiga penyebab kebahagiaan),konsep ini terdiri dari : dengan mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, mempunyai hubungan yang baik dengan sesame makhluk hidup, serta mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan alam.
3)      Kharma Pala, (Buah perkataan) konsep ini disebut dengan (causal law) atau hukum sebab akibat.
4)      Pilar nilai-nilai kemanusiaan, yang intinya dibangun dari rasa kasih saying (prema).
5)      Punarbhava (reinkarnasi), konsep yang menurut pemeluk agama Hindu meyakini adanya  kehidupan kembali setelah kematian.
Dari pemaparan yang ada dalam kitab Veda tersebut jika diaplikasikan dalam kehidupan realita banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam dunia guna kepentingan akhiratnya juga.
Dalam pandangan agama Hindu pluralitas adalah sebagai manifestasi dari vibhuti atau kemahakuasaan dari Hyang Widhi (Tuhan). Selain itu Agama Hindu juga mengajarkan umatnya untuk mewujudkan tiga kesempurnaan yang dalam salah satu ajaran kitab Veda menyebutkan (Tri Hita Karana), bentuk ibadah ritualis dan cinta kasih kepada Tuhan tidak akan sempurna tanpa adanya manisfestasi horizontal baik terhadap alam lingkungan maupun sesama manusia. Ini juga dijelaskan dalam Kitab (Bhagavadgita, 111,10).
Seorang Hindu menjaga keselarasan sosial (dharma) guna mencapai keasadaran utuh-Nya yang alami. Dan sikap Humanisme sebagai manifestasi horizontal untuk pembebasan dari reinkarnasi atau oleh perangkap duniawi.
Mengenai filosofi umat Hindu tentang keselarasan sosial dengan cara menempatkan sesame manusia dalam kesetaraan hakikat keinsanianya, yang melahirkan etika sikap dan perilaku arimbawa (persaudaraan) terhadap sesama. Dengan landasan etika tersebut seorang Hindu sejati dalam berinteraksi sosial yang pluralistis akan menampilkan “sikap teratai”.
Umat Hindu sejati bisa dikatakan sebagai “makhluk pluralistis luar dalam”,  yang beresensikan humanisme dan sosialitas sebagai landasan dalam interaksi sosial antara etnis maupun agama yang akan membawa pahala di dunia maupun diakhirat. Pandangan umat Hindu mengenai pluralitas adalah sebagai ujian kemampuan umat beriman dalam melihat realitas hakikat keinsanian dan sosialitas yang melahirkan suatu persaudaraan.



















                                   
DAFTAR PUSTAKA

Elga Sarapung. Sejarah Teologi dan Etika-etika Agama. Yogyakarta : Dian/ Interfidei,2005
I Made Titib Pengantar Veda, ( Jakarta: Hanuman Sakti,1997)

I wayan Maswinara, Buku pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Surabaya: Paramita,1998)

I wayan Nur Kancana, Menguak Tabir Perkembangan Hindu, (Denpasar: Bali post.1997)




[1] I Made Titib Pengantar Veda, ( Jakarta: Hanuman Sakti,1997)
[2] I wayan Maswinara, Buku pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Surabaya: Paramita,1998)
[3] I wayan Nur Kancana, Menguak Tabir Perkembangan Hindu, (Denpasar: Bali post.1997)