A.
Latar
Belakang
Sejak tahun 1998 sampai sekarang,
Institut Dian / Interfidei menyelenggarakan program Studi Agama-agama (SAA).
Studi ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa sejak beberapa tahun terakhir
ini minat masyarakat ingin mengenal dan memahami agama-agama diluar agama yang
dianutnya mengalami perkembangan yang signifikan.
Perkembangan tersebut memunculkan
“Kesadaran Pluralis” di masyarakat,
khusunya diantara intelektual dan aktivis serta kaum agamawan, untuk mengenal
lebih jauh tentang agama-agama lain maupun agamanya sendiri. Kesadaran tersebut
tidak semata-mata di dorong oleh kepentingan pribadi untuk “sekedar tahu”
tetapi juga oleh dinamika dan perubahan sosial budaya yang terjadi di
masyarakat.
Sesuai kenyataan beragamnya agama dalam
kehidupan riil di masyarakat dengan segala bentuk interaksi dan dinamikanya,
ditambah dengan berbagai stereotype dan prasangka pada masing-masing penganut
agama, sehingga menuntut kita semua untuk mampu memahami dan menghargai satu
dengan lainya. Maka dalam artikel ini saya membahas tentang Agama Hindu.
Ada
tiga aspek dasar yang perlu diketahui dalam setiap pembahasan mengenai
agama-agama, yaitu tiga aspek yang menjadi fokus dalam studi ini adalah
Sejarah, Theologi/Filsafat, dan Etika.
Memahami
Kehidupan Ajaran Hindu
Langsung
saja pokok bahasan yang ingin saya sampaikan mengenai agama Hindu yaitu sesuai
yang saya paparkan diatas tentang sejarah Hindu, Theologi/Filsafat dalam Hindu
dan juga etika dalam perspektif Hindu. Sebelum membahas lebih jauh mari kita
bahas dulu mengenai sejarah tentang agama Hindu.
A.
Sejarah Hindu
Kata
Hindu diberikan oleh orang-orang Persia terhadap wilayah di lembah Sungai
Shindu. Selain itu, Agama Hindu juga disebut Vaidika Dharma karena
bersumber pada wahyu suci Tuhan, yang disebut Pustaka Veda. Secara etimologi
Veda berasal dari vid yang berarti
mengetahui sedangkan veda berarti pengetahuan. Wahyu veda diterima melalui :
a)
Svaranada,
semula didengar hanya sebagai gema, kemudian menjadi sabda Tuhan, lalu oleh Rsi
disampaikan kepada para siswanya.
b)
Upanisad,
dalam keadaan meditasi pikiran Rsi dimasuki oleh Sabda Tuhan.
c)
Darsanam,
Rsi berhadapan langsung dengan para Dewa dalam suatu pandangan Ghaib.
d)
Avatara,
perkataan langsung yang disampikan oleh Tuhan yang bereinkarnasi ke dunia.
Sedangkan Sabda Tuhan yang diterima
oleh para Maharsi dari Tuhan dikenal
sebagai Veda Sruti( meliputi: Rgveda, Samaveda, Yajurveda, dan
Atharvaveda).[1]
Agar kita lebih mudah memahami ajaran agama Hindu, berikut ini beberapa karakteristik Hindu Dharma.
Pertama,
keterbukaan terhadap pandangan kritis seluruh isi ajaranya. Sesuai pernyataan ,
“ Walaupun seribu Veda menyatakan bahwa api itu dingin, janganlah dipercaya
!”. Hindu adalah agama pembebasan yang ajaranya tidak bersandar pada
dogma-dogma. Kedua, esensi ajaran veda dapat diformulasikan dalam bentuk
keimanan. Ketiga, tujuan agama Hindu untuk kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Untuk mewujudkan tujuan ini, perilaku umat Hindu harusnya mencerminkan
nilai-nilai sathyam (kebenaran), sivam (kebajikan), dan sundaram ( keindahan).[2]
Penyebaran Hindu di Nusantara Indonesia,
melalui proses komunikasi dan pengenalan. Misi penyebaran agama Hindu yaitu,
umat Hindu tidak menafsirkannya sebagai penyebaran aktif, tetapi mereka
menerima orang-orang yang ingin mendalaminya. Umat Hindu cepat berkembang di
negeri ini karena adanya persamaan unsur-unsur antara agama Hindu dengan
Kepercayaan asli, misalnya :
1.
Agama
Hindu memuja Brahman dan para dewa, sedangkan kepercayaan nenek moyang memuja
roh leluhur.
2.
Tempat
pemujaan agama Hindu berupa Lingga, candid an arca. Sedangkan tempat pemujaan
nenek moyang berupa, menhir, punden berundak, tahta batu dan patung.
3.
Upacara
agama Hindu dipimpin oleh Kaum Brahmana, sedang upacara nenek moyang dipimpin
oleh dukun.[3]
Untuk
memahami perkembangan agama Hindu pada tahap awal di Nusantara, dua seumber yang dapat
dijadikan acuan yaitu dengan ditemukanya prasasti dan bangunan suci.
Karena dua bukti tersebut selalu
berkaitan dengan raja-dan kerajaan.
Prasati
pertama yang berkaitan dengan kerajaan Hindu ditemukan dalam bentuk Yupa
(memakai hurup palawa dan bahasa Sansekerta) di Kutai, Kalimanta Timur. Di Jawa
Barat juga ditemukan sejumlah prasasti yang diperkirakaan dibuat pada awal abad
kelima sebagai peninggalan Raja Purnawarman. Dari prasasti-prasasti yang ada
diketahui bahwa sang Raja adalah penganut Hindu.
B.
Theologi / Filsafat yang ada dalam Agama Hindu
Manusia
adalah termasuk makhluk yang kecil dalam ciptaan Tuhan. Untuk itu sangatlah
sulit dan terbatas pemikiran manusia untuk memberikan penjelasan mengenai diri Tuhan. Namun, dalam
pandangan agama Hindu akan diberi
batasan mengenai penjelasan tentang Tuhan, dengan harapan dijadikan titik pertemuan dalam bertukar
informasi dan sebagai titik tolak yang
sebenarnya aplikasi manusia dari bentuk kebakhtian kepada –Nya dan berusaha
hidup rukun dan damai demi kesejarhteraan dan kebahagiaan umat manusia.
Pernyataan dalam sabda suci Bhagavadgita X.2
menyatakan :
“
Na me viduh suraganaah
Prabhavam
na maharshayah
Aham
aadir hi devaanaam
Maharsiinaam
cha sarvasah “
Artinya
: “ Baik para dewa maupun resi Agung ,Tidak mengenal asal mula-Ku. Sebab dalam
segala hal, Aku adalah sumber dari para dewa dan Rsi Agung”.
Dengan
berlandaskan sabda tersebut, jelaslah bahwa kelemahan dan keterbatasan manusia
tentang mendefinisikan Tuhan dan seluk beluk tentang Ketuhanan. Beberapa tokoh
mendefinisikan :
1)
Tuhan adalah
sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai yang Maha Kuasa (
Depdikbud, 1988:965)
2)
God is super
human being worshipped as having power over nature and human fortunes (
Fowler and Fowler, 1964: 526)
Paham
atau Ilmu yang membahas tentang Tuhan disebut Theology. Di dalam agama Hindu
disebut Brahma Vidya, yaitu pengetahuan tentang Brahman (Tuhan).
Menindak
lanjuti dari penjelasan tentang Tuhan diatas tentu belum bisa memuaskan, karena
pada dasarnya sebuah definisi yang baik harus meliputi : menyangkut sejarah,
bentuk, sifat, fungsi, kedudukan, perbandingan, ciri-ciri, dll. Oleh karena
yang diberi definisi memang sulit karena Tuhan itu Maha Besar, Maha Kuasa, dan
serba Maha-maha yang tak bisa terpikirkan oleh akal kita. Sehingga menimbulkan
perbedaan mengenai konsepsi atau persepsi mengenai diri Tuhan itu seharusnya
tidak perlu untuk dipertengkarkan, tetapi dengan adanya perbedaan mengenai cara
pandang dalam masing-masing individu / agama-agama yang ada seharusnya membuat
diri kita menjadi sadar, memaklumi dang menghargai sehingga dalam kehidupan ini
kita bisa hidup rukun, damai, sejahtera baik dalam sosialisasi penganut agama
sendiri ataupun dengan penganut agama yang lain.
Pandangan
tentang tokoh agama Hindu di dalam Brahmasutra menyatakan bahwa Tuhan
itu, “ Tad avyaktam, aha hi”, yang artinya “ Sesungguhnya Tuhan tidak
terkatakan”. Dengan dasar pemikiran yang seperti ini, maka akan saya paparkan
menegenai pokok pikiran yang berkaitan dengan konsep Ketuhanan dalam Agama
Hindu yang berkaitan dengan wujud dan KeEsaa-Nya, kedudukan, sifat, dan fungsi
Tuhan.
· Veda adalah Wahyu Tuhan
Sumber
utama pustaka suci agama Hindu adalah Veda. Karena pada dasarya Veda diyakini
sebagai Wahyu atau Sabda Tuhan (Brahman). Veda bersumber dari wahyu Tuhan, maka
Veda disebut Apauruseya, yang artinya bukan dari purusa atau manusia.
Veda diyakini “anadi ananta” (tidak ada awal dan akhir). Sebagai pembuktian
mengenai Veda adalah sabda Tuhan adalah sesuai mantra berikut ini :
“Dari
Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia mempersembahkan berbagai
yajnya dan dari Tuhan muncul Rgveda dan Samaveda. Dari Tuhan pula muncul
Yajurveda dan Atharveda” (Yajurveda.XXX.7)
· Wujud dan keEsaan Tuhan (Brahman)
Di
dalam kitab Veda (wahyu Tuhan) membicarakan aspek wujud Brahman yang sebenarnya
adalah energi, cahaya, sinar yang cemerlang sehingga sulit diketahui wujudnya.
Jadi Tuhan adalah abstrak kekal abadi yang dalam Hindu disebut Nirguna atau
Nirkara Brahman. Keadaan seprti ini dipahami bahwa Tuhan tidak Berpribadi atau
Transenden, yang berarti diluar jangkauan pemikiran manusia. Walaupun Brahman
pada dasarnya tidak berwujud, namun bila Brahman sendiri menghendaki dia terlihat maka hal ini mudah ia lakukan.
Di dalam mantra Bagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3, eksistensi
wujud Brahman dipaparkan sebagai berikut :
a)
Paranaamam,
Tuhan yang abstrak Kekal Abadi yang tidak berpribadi. (sesuai mantra
Bhagavdgita IX.6)
b)
Vyuhanaama, Tuhan
berbaring pada ular di lautan susu. Tuhan ini hanya bisa dilihat oleh para
dewa.
c)
Vibhawanaama,
Tuhan ini berwujud dan disebut Avatara,”Tuhan menyebrang”. Perwujudanya
dibedakan menjadi tiga : Bentuk tumbuhan atau Binatang, Bentuk setengah manusia
setengah Binatang, Bentuk manusia dengan berbagai kelebihan.
d)
Tuhan meresapi
segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan
e)
Archananaama,
Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk Archa
atau pertima.
Dengan
penjelasan yang ada dapat disimpulkan bahwa Ketuhanan dalam agama Hindu
merupakan kombinasi dari monoteisme transenden, monoteisme imanen, dan monisme.
·
Kedudukan dan
Sifat Tuhan
`Menurut
umat agama Hindu kedudukan Tuhan berada dimana-mana, hal ini didasarkan pada
veda tuhan itu bersifat sarva viapi atau viapi viapaka , “ maha ada, maha
dimana-mana, dapat dijumpai dimana-mana, (di depan, dibelakang, disamping,
diatas, dibawah, ditengah, dll.) selain itu Tuhan juga berada dekat dalam hati (ring
tengahing padma hrdaya) dalam diri kita, sehingga ada mahavakya : “ Aham
Brama Asmi “, Aku adalah Tuhan.
Di
dalam Rgveda, X,82-3, Yajur dan Atharvaveda,II,1.3
“
Bapak kami, pencipta kami, penguasa kami, yang menetahui semua tempat dan
segala yang ada, Dialah satu-satunya. Memakai nama dewa yang berbeda-beda,
Dialah yang dicari oleh semua Makhluk dengan renungan”.
Mengenai
pemamaparan kedudukan Tuhan yang seperti diatas, maka dapat kita bayangkan
bahwa sifat dari Tuhan tidak bisa kita gambarkan. Namun, untuk mengetahui
secara sekilah dan untuk mengagumi demi untuk berbhakti kepada-Nya maka sifat
Tuhan menurut konsep Veda dan sastra Hinduistis, Tuhan bersifat : Maha Mulia,
Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Ada, Maha Sakti, Maha Penyayang,
Maha Adil, Maha Bijaksana, dsb.
C.
Pandangan umat Hindu tentang Etika Moralis
Mengenai
etika moralis dalam perspektif Hindu di dasarkan pada wahyu Veda yang merupakan
pustaka suci umat Hindu. Dalam pustaka Hindu ini banyak memberikan sumbangan
pikiran kepada umatnya untuk selalu hidup bahagia dan sejahtera. Pemaparan
mengenai ajaran dalam wahyu veda terdapat dalam hal-hal berikut :
1)
Tri karya
Parishuda (tiga hal yang menyangkut kesucian/ kebenaran),konsep ini terdiri
dari : berpikir yang suci dan benar, berkata yang suci dan benar, serta
berperilaku yang suci dan benar.
2)
Tri Hita Karana,
(tiga penyebab kebahagiaan),konsep ini terdiri dari : dengan mempunyai hubungan
yang baik dengan Tuhan, mempunyai hubungan yang baik dengan sesame makhluk
hidup, serta mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan alam.
3)
Kharma Pala,
(Buah perkataan) konsep ini disebut dengan (causal law) atau hukum sebab
akibat.
4)
Pilar
nilai-nilai kemanusiaan, yang intinya dibangun dari rasa kasih saying (prema).
5)
Punarbhava
(reinkarnasi), konsep yang menurut pemeluk agama Hindu meyakini adanya kehidupan kembali setelah kematian.
Dari
pemaparan yang ada dalam kitab Veda tersebut jika diaplikasikan dalam kehidupan
realita banyak manfaat yang bisa diperoleh dalam dunia guna kepentingan
akhiratnya juga.
Dalam
pandangan agama Hindu pluralitas adalah sebagai manifestasi dari vibhuti atau
kemahakuasaan dari Hyang Widhi (Tuhan). Selain itu Agama Hindu juga mengajarkan
umatnya untuk mewujudkan tiga kesempurnaan yang dalam salah satu ajaran kitab
Veda menyebutkan (Tri Hita Karana), bentuk ibadah ritualis dan cinta kasih
kepada Tuhan tidak akan sempurna tanpa adanya manisfestasi horizontal baik
terhadap alam lingkungan maupun sesama manusia. Ini juga dijelaskan dalam Kitab
(Bhagavadgita, 111,10).
Seorang
Hindu menjaga keselarasan sosial (dharma) guna mencapai keasadaran utuh-Nya
yang alami. Dan sikap Humanisme sebagai manifestasi horizontal untuk pembebasan
dari reinkarnasi atau oleh perangkap duniawi.
Mengenai
filosofi umat Hindu tentang keselarasan sosial dengan cara menempatkan sesame
manusia dalam kesetaraan hakikat keinsanianya, yang melahirkan etika sikap dan
perilaku arimbawa (persaudaraan) terhadap sesama. Dengan landasan etika
tersebut seorang Hindu sejati dalam berinteraksi sosial yang pluralistis akan
menampilkan “sikap teratai”.
Umat
Hindu sejati bisa dikatakan sebagai “makhluk pluralistis luar dalam”, yang beresensikan humanisme dan sosialitas
sebagai landasan dalam interaksi sosial antara etnis maupun agama yang akan
membawa pahala di dunia maupun diakhirat. Pandangan umat Hindu mengenai pluralitas
adalah sebagai ujian kemampuan umat beriman dalam melihat realitas hakikat
keinsanian dan sosialitas yang melahirkan suatu persaudaraan.
DAFTAR
PUSTAKA
Elga
Sarapung. Sejarah Teologi dan Etika-etika Agama. Yogyakarta : Dian/
Interfidei,2005
I Made Titib Pengantar
Veda, ( Jakarta: Hanuman Sakti,1997)
I wayan
Maswinara, Buku pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Surabaya:
Paramita,1998)
I wayan Nur
Kancana, Menguak Tabir Perkembangan Hindu, (Denpasar: Bali post.1997)